12 Januari 2014

https://soundcloud.com/ssrtnh
(Image from google)

Oleh: Muhammad Ahsan Ridhoi

Suatu hal yang sangat khas pada seorang pemimpin negara, adalah pidatonya.  Menjadi suatu hal yang selalu ditunggu oleh seluruh rakyat. Entah untuk dikritik atau diapresiasi. Sehingga, tak jarang seorang pemimpin negara amat disegani dan dikenang, karena pidatonya. Atau sebaliknya, seorang pemimpin negara dapat dianggap plin-plan, tak tegas, juga karena pidatonya.

Di negara ini misalnya, rakyat dapat mengenang seorang Soekarno, karena pidatonya yang selalu berapi-api. Namun, di sisi lain, rakyat dapat dengan mudah menghakimi Megawati, hanya karena cara pidatonya yang membosankan. Meski, masih banyak juga rakyat negara ini, yang menilai seroang pemimpin negara, bukan dari cara ia berpidato. Melainkan dari isi pidatonya. Karena memang seharusnya begitu. Menjadi percuma, jika seorang pemimpin negara dapat berpidato dengan berapi-api, namun tak tepat sasaran secara isi. Klise. Lebih jauh lagi, ada pula segelintir rakyat, yang menilai seorang pemimpin negara, pada perwujudan dari isi pidatonya. Tindakan nyata.

Saya sendiri, tanpa merendahkan salah satu pandangan masyarakat terhadap seorang pemimpin negara. Lebih setuju pada cara pandang yang terakhir. Meski pidato bagi seorang pemimpin negara adalah vital. Karena dengan cara itulah rakyat dapat mengetahui gambaran kebijakan yang akan diambil. Namun, bagi saya ada yang lebih penting untuk diperhatikan, kerja nyata. Pemimpin bukanlah seorang yang hanya handal be-retorika saja. Melainkan juga bertindak. Dan untuk itu ia disebut pemimpin.

Namun, pada kenyataannya, kini banyak pemimpin yang hanya pandai be-retorika. Saja. Dengan pidato yang disusun sedemikian rupa, seorang pemimpin berharap dapat terus mengambil simpati, dari hati rakyatnya. Sehingga, pidato yang disampaikan, tak lebih dari omong kosong belaka. Bualan.

Berdasar pada latar kenyataan seperti itu. Menyadarkan rakyat,  akan pentingnya menilai sorang pemimpin dari kinerjanya, menjadi penting. Misi ini yang coba diusung oleh ‘Sisir Tanah’. Sebuah grup band beraliran folk asal Jogjakarta. Dalam salah satu lagunya yang berjudul Pidato Retak.

Sisir Tanah, seperti yang ditulis oleh Aris Setyawan di Jakartabeat.net. Merupakan grup band yang minimalis, hanya bermodalkan gitar bolong. Namun, tingkat musikalitasnya tak ompong. Sang vokalis, Bagus Dwi Danto, yang juga seorang penyair. Membuat lagu-lagu Sisir Tanah sangat menyihir pendengarnya. Baik dari segi lirik maupun komposisinya. Termasuk pada lagu Pidato Retak.

Ketika pertama kali saya mendengar lagu ini, saya anggap penciptanya sudah gila. Gila bukan dalam arti yang sesungguhnya. Melainkan gila karena lepas dari kungkungan tralis besi keseragaman. Pada menit pertama, kita telah bisa menangkap makna ‘retak’. Dari suara pengamen dan pedagang asongan, yang sangat kontras dengan suara pidato Presiden Soekarno. Oleh karenanya, saya anggap keputusan dari Danto dan kawan-kawan, untuk memasukkan suara-suara itu di awal lagu, adalah tepat. Sehingga, pendengar pun akan langsung paham. Dan lirik yang ada pada menit-menit setelahnya pun, akan semakin kuat maknanya. Tak kehilangan detil.

Kegilaan Sisir Tanah, dalam menjelaskan makna retak. Juga terlihat pada bagian akhir lagu. Di sini lah menurut saya gong dari lagu ini. Puncak segala kritik yang dilontarkan kepada presiden. Yang hanya bermanis retoris tanpa ada kinerja taktis. Omong kosong belaka. Gong ini mereka tabuh dengan sangat kuat dan menggelegar, dengan sebuah puisi yang dibaca cepat. Mengikuti irama lagu. “Telepon genggam diaktifkan, doa diaktifkan, harapan diaktifkan / doa palsu diaktifkan, hey ada ranjang masih goyang / alat kelamin dinonaktifkan, puisi dicetak rapi, mahasiswa mogok makan”—dan seterusnya.

Gong yang bergelegar itu, ditabuh hampir tanpa jeda. Seperti serentetan peluru yang terus menerus ditembakkan ke jantung seorang pemimpin. Sehingga dapat dipastikan, jika itu adalah peluru, pemimpin itu akan tewas seketika. Tak sempat meminta maaf atas kelalaiannya. Namun, karena lagu ini tak bermisi untuk menghabisi pemimpin yang lalim. Melainkan untuk menyadarkan khalayak, agar tak mudah percaya pada pidato presiden, yang kebanyakan retak. Maka di akhir puisi, sebuah sindiran kepada rakyat, yang masih mengukur penghormatan kepada presiden, dari kecakapannya dalam berpidato pun dilontarkan. ”Tuan dan nyonya belajar logika sudah sampai mana?”. Terus melengking hingga menit terakhir lagu ini.

Kenapa harus belajar logika? Pertanyaan inilah, yang mula-mula singgah dalam benak saya. Sehingga, membuat saya sempat memutar berulang kali bagian akhir lagu ini. Sungguh tak dapat dinyana memang, ide dari Danto dalam lagu ini. Sebuah ide, yang menurut saya sangat visioner. Tak ada yang pernah berpikir tentang pengajaran logika, pada masyarakat. Karena ternyata, kelas menengah sekalipun masih gagap logika dalam menangkap sesuatu hal. Terbukti dengan banyaknya kelas menengah, yang semakin ngehe. Berlagak bak seorang konglomerat dan orang yang paling benar. Namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari korban penjajahan logis dari kaum kapitalis. Sedangkan kunci bagi tumbuh kembangnya sebuah masyarakat yang utuh, adalah pada kemapanan logikanya. Seperti yang dikemukakan oleh Paulo Freire, dari jauh hari.  
Pidato seorang presiden selamanya akan tetap lumrah, bersama keretakannya. Dan yang bisa menyelamatkan negeri ini, adalah mereka yang bisa memilah. Menyisir kata demi kata, makna demi makna, janji demi janji, rayu demi rayu dengan logika. Bukan air mata di akhir cerita. Penyesalan. (end)

Posted on Minggu, Januari 12, 2014 by Sounds Free

No comments

6 Januari 2014


Oleh: Muhammad Ahsan Ridhoi


(Image from google) 


Bicara soal politik di 2014 adalah penting. Sama pentingnya dengan bicara soal Nasida Ria. Kenapa Nasida Ria? Ya, karena grup musik qasidah modern ini adalah salah satu legenda hidup musik Indonesia. Pionir bagi tumbuh kembangnya grup musik dengan aliran sejenis dan termasuk dalam deretan musisi pemerhati fenomena sosial, yang kini mulai terlupakan. Maka penting kiranya membicarakan mereka kembali.

Grup musik yang mempunyai personel sembilan orang wanita ini, terbentuk pada tahun 1975 oleh HM Zain, seorang guru qiraah dari Semarang, Jawa Tengah. Mulanya mereka adalah grup nasyid, hanya memainkan alat musik rebana dan musik-musik Timur Tengah. Namun, setelah mendapat bantuan dari Bupati Semarang pada masa itu, yang juga penggemar mereka, berupa alat musik dan pelajaran musik. Pada akhirnya mereka pun menjadi grup musik yang matang. Dengan tambahan sentuhan alat musik modern seperti gitar, bas, organ, dan biola

Album pertama Nasida Ria dirilis pada tahun 1978. Saat itu, lagu di album tersebut masih di dominasi oleh lagu-lagu berbahasa Arab. Namun, selepas album ketiga, mereka mulai membuat lagu-lagu berbahasa Indonesia. Pada beberapa album berbahasa Indonesia itu, mereka banyak bicara soal aneka ragam kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Boleh dibilang mereka adalah grup musik Indonesia yang paling lengkap dan visioner bicara soal itu.

Pada masa perang teluk misalnya, mereka menciptakan lagu-lagu seperti Perdamaian dan Bom Nuklir. Keduanya bertemakan bahaya perang. Hingga kini kedua lagu itu pun masih sering kita perdengarkan di berbagai media, baik televisi, radio, maupun online. Khusus untuk lagu Perdamaian merupakan salah satu lagu paling populer dari mereka. Bahkan, band seperti GIGI pun sempat memasukkan lagu itu dalam salah satu albumnya. Dengan sentuhan musik ala GIGI sekalipun lagu itu masih enak didengarkan.

Merekapun bicara soal pers, lewat lagu Wartawan Ratu Dunia. Seperti yang kita ketahui, tak banyak musisi Indonesia yang bicara soal pers. Atau mungkin tak ada sama sekali. Ini jelas membuktikan, bahwa mereka jauh lebih visioner daripada musisi lain. Pada lagu ini, mereka sudah mewantikan besarnya pengaruh media bagi dunia. Seperti yang tertuang dalam liriknya:

Ratu dunia ratu dunia, oh wartawan ratu dunia
Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran

Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji
Bila wartawan mencaci, dunia ikut membenci
Wartawan dapat membina, pendapat umum di dunia

Tingkat kevisioneran Nasida Ria terbukti kembali pada lagu Tahun Dua Ribu. Lagu itu mereka ciptakan pada tahun 1993. Dan sudah dapat melihat fenomena sosial tujuh tahun kedepan dari tahun lagu itu diciptakan. Seperti halnya lagu Wartawan Ratu Dunia, lagu ini berisikan anjuran dan wanti-wanti dalam liriknya, seperti berikut ini:

tahun duaribu tahun harapan,
yang penuh tantangan dan mencemaskan
wahai pemuda dan para remaja,
ayo siapkan dirimu
siapkan dirimu, siap ilmu siap iman
siap

tahun duaribu kerja serba mesin,
berjalan berlari menggunakan mesin
manusia tidur berkawan mesin,
makan dan minum dilayani mesin
sungguh mengagumkan tahun duaribu
namun demikian penuh tantangan

Masih banyak soal lain yang dibicarakan oleh Nasida Ria dalam berbagai lagunya, lingkungan hidup, kemiskinan, bahkan bencana. Semua dikemas dalam lagu-lagu bernada apik dan lirik yang menggugah. Perihal pemilihan aliran musik qasidah itu tak jadi soal. Karena musik tak kenal batas untuk menyampaikan sebuah pesan. Aliran musik hanya soal logat bicara saja. Dan qasidah adalah logat mereka.

Namun, kini Nasida Ria bak tertelan zaman. Tak terdengar lagi gaungnya. Bahkan bagi generasi muda sekarang, nama mereka sangat asing. Terkecuali bagi yang lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren atau di Semarang. Nasida Ria bukan barang asing.

Ditengah maraknya arus industri musik dengan persaingannya yang semakin ketat, Nasida Ria tersingkir. Bukan mati. Hanya tersingkir. Nyatanya mereka masih mengeluarkan album hingga tahun 2010. Album terakhir mereka berjudul Cahaya Ilmu. Namun album itu tak selaris album-album sebelumnya. Kalah dengan album band-band yang liriknya terkesan murahan yang semakin marak, di dunia musik Indonesia.

Ditambah lagi adanya pandangan dalam lingkup generasi muda sekarang, yang menganggap lagu-lagu qasidah itu norak alias kuno. Sehingga generasi muda saat ini pun semakin enggan untuk mendengarkan lagu-lagu qasidah, termasuk Nasida Ria. Usia personel yang semakin lanjut pun jadi masalah yang menghambat produktifitas mereka. Apalagi beberapa personel telah meninggal dunia. Meski begitu, itu bukan penanda kematian Nasida Ria. Karena lagu-lagu mereka tetap hidup dan menggema di banyak telinga dan hati sebagian besar masyarakat Indonesia Nasida Ria tetap ria dengan segala riuh rendahnya.

Akankah lahir penerus Nasida Ria? Mari kita tunggu bersama. Selama zaman terus bergerak dan hari masih berganti, segalaya mungkin terjadi.

Posted on Senin, Januari 06, 2014 by Sounds Free

4 comments

5 Januari 2014


Oleh: Ricardo Taufano

(Image from google)


Menjelang tahun 2014 (Desember akhir) kemarin, seorang teman meminta saya untuk menyebutkan satu lagu yang cocok untuk menjadi lagu tema tahun politik 2014. Tentu saja pilihan saya langsung jatuh pada lagu “Awas!” dari Besok Bubar, sebuah band Grunge asal Jakarta yang terbentuk tahun 2005 silam. Lagu ini juga yang pertama kali saya dengarkan dari album Besok Bubar.

Rasa suka saya terhadap band ini membawa saya ke dalam moshpit saat mereka diundang untuk bermain secara live di salah satu Universitas Negeri di Jakarta. Massa ikut bernyanyi dan berteriak khususnya pada lagu “Awas!”, dikemas dalam sound yang tebal dan keras, terdapat amarah dan apatisme dalam lagu ini. Amarah dan apatisme terhadap kondisi politik Indonesia, Besok Bubar mengingatkan kita untuk lebih cerdas dalam memilih pemimpin yang akan dilakukan melalui Pemilihan Umum tahun 2014 ini.

Dalam verse pertama, lagu ini menyuarakan penolakan terhadap korupsi dan bagaimana pemerintah bersikap lembek terhadap budaya korup. Hal ini mengingat Indonesia menduduki peringkat ke-64 sebagai negara paling korup di dunia. Prestasi ini dapat tercapai berkat upaya dari para “tikus-tikus berdasi”. Istilah klise ini tetap saya gunakan mengingat para “tikus” masih menggunakan alasan-alasan klise sebagai dalih untuk mencapai kursi kekuasaan.

Di Indonesia, seseorang dapat mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin, meskipun memiliki track record sebagai orang yang korup. Dan mereka dapat dengan tebal muka memasang wajah mereka di pohon dan billboard jalan raya, berbicara tentang perubahan. Perilaku yang rasa-rasanya tidak tahu malu.

Disinilah lagu “Awas!” dari Besok Bubar mengingatkan melalui reff lagunya yang berbunyi:

Lima tahun sekali

Janji seribu janji

Lima tahun sekali

Awas tertipu lagi

Tahun 2014 adalah tahun politik. Masyarakat Indonesia akan menggelar pesta demokrasi untuk menentukan pemimpin negara selama lima tahun ke depan. Kita dituntut untuk memilih calon pemimpin yang paling baik, dan untuk itu, kita wajib untuk mengetahui kapabilitas calon yang kita pilih.

Masyarakat Indonesia tidak butuh seorang pemimpin yang berpotensi untuk menjadi seorang diktator. Kita juga tidak membutuhkan pemimpin yang merupakan seorang mafia pajak. Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang didasarkan atas kecintaannya terhadap Indonesia beserta segala aspek yang terdapat di dalamnya.

Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kita akan kehilangan waktu sebanyak itu jika kita salah dalam memilih pemimpin. Sedangkan kita dapat memperjuangkan Indonesia untuk menjadi negara yang lebih baik jika kita memanfaatkan waktu lima tahun tersebut dengan pemimpin yang tepat.

Kita sebagai rakyat harus menyadari kekuatan yang kita miliki. Di negara demokrasi khususnya, rakyat merupakan orang-orang yang berhak memilih pemimpinnya. Jika kita hanya termakan iming-iming melalui “serangan fajar”, saya yakin Indonesia akan mengalami hambatan dalam berkembang, dan pada titik ekstrem, Indonesia dapat meningkatkan peringkatnya sebagai negara paling korup di dunia.

Kembali pada theme song yang sedang saya bahas, Besok Bubar mengimbau kita untuk menjadi pemilih yang cerdas. Kita harus menggunakan hak kita secara bijaksana, setidaknya dengan mengenali calon pemimpin yang akan kita pilih. Karena jika kita tertipu oleh seribu janji, kita akan terus jalan di tempat. Atau bahkan mengalami kemunduran.

Posted on Minggu, Januari 05, 2014 by Sounds Free

No comments

29 Desember 2013

(Image from google)



Oleh: Ricardo Taufano

Beberapa tahun kebelakang, banyak terlihat di tembok pinggir jalan, truk ataupun T-Shirt, tulisan atau
gambar yang berisi kerinduan akan pemimpin pada masa Orde Baru, Soeharto. Zaman yang dirindukan ketika sembako, kesejahteraan dan keamanan terjamin. Zaman yang pada satu sisi merenggut kebebasan berpendapat, zaman dimana terdapat pembungkaman massal, zaman yang mencekam. Tiga puluh dua tahun negara ini berada dalam kepemimpinan Presiden Soeharto, dan tanpa mengurangi rasa hormat, selama itu pula negara ini menjadi negara demokrasi yang rasa-rasanya hanya omong kosong. Bahkan banyak dari para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dan Kopassus.

Pasca kejatuhan Soeharto, kasus penculikan para aktivis ini menjadi alasan Danjen Kopassus yang saat ini mencalonkan diri sebagai Presiden, dan Tim Mawar. Hal ini mencapai momentum ketika seorang laki-laki keturunan Arab, Munir Said Thalib sebagai seorang aktivis pengiat HAM di Indonesia yang dengan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) terbunuh saat dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, Belanda. Insiden ini terjadi pada 7 September 2004.

Orde Baru, yang dielu-elukan sebagai zaman dimana terdapat kesejahteraan, minimnya tindak korupsi, disisi lain juga merupakan zaman dimana kebenaran selalu ditutup-tutupi. Dan Munir, dengan gerakannya berusaha untuk memperjuangkan hak daripada korban dan hak sebagai rakyat Indonesia. Semangat dan sosok Munir merupakan hal yang inspiratif. Ia merupakan inspirasi dari orang-orang yang optimis.

Empati dan rasa optimisme ini telah menginspirasi banyak orang di Indonesia, khususnya anak muda untuk menolak lupa. Mereka menolak lupa akan apa yang terjadi pada masa Orde Baru, mereka menolak lupa teman-teman mereka yang hilang dan menjadi korban kekerasan. Dan tidak sedikit pula yang menjadikan Munir sebagai inspirasi dalam menghasilkan sebuah karya seni. Sebut saja Efek Rumah Kaca, dengan lagu “Di Udara” yang mengajak kita untuk berkontemplasi tentang bagaimana rasanya ketika kebebasan terenggut, dan bagaimana hidup pada sebuah zaman yang mencekam. Musisi lain yang juga menjadikan Munir sebagai inspirasi, ialah Endah N’ Rhesa, dalam lagunya yang berjudul “A Thousand Candles Lighted”, yang menyampaikan semangat dari perjuangan Munir. Lagu ini, seperi yang disampaikan Endah N’ Rhesa pada sebuah radio arus utama, didedikasikan untuk keluarga dan teman-teman yang ditinggalkan Munir. Sekaligus menyampaikan bagaimana semangat ini harus terus ada.

Sikap untuk menolak lupa ini akan terus disampaikan, baik dalam bentuk seni maupun dengan gerakan sosial. Kita menolak lupa untuk memperingati Hari Munir. Semangat untuk menunjukkan bagaimana seharusnya kebebasan dan keadilan dapat dilindungi oleh para pemegang tampuk kekuasaan. Ya, kami tidak merindukan tindakan opresi pemerintah ataupun bersihnya kasus korupsi, tapi kebebasan media dibatasi. Yang kami rindukan adalah sosok dan semangat untuk terus memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak serta kebenaran. (End)

Posted on Minggu, Desember 29, 2013 by Sounds Free

2 comments

16 Desember 2013

(Cover album pertama ERK)

Oleh: M. Ahsan Ridhoi


Siapa yang tak kenal Efek Rumah Kaca (ERK)? Sebuah band indie asli Jakarta. Terkenal karena lirik lagunya yang penuh makna, sarat dengan pesan-pesan moral yang luhur. Maka, tak heran jika mayoritas fans dari ERK—yang sering dikenal dengan ERK Eleniak—dari kalangan terpelajar. Terutama kalangan mahasiswa, yang secara pemikiran masih idealis dan kritis.

Sebut saja lagu berjudul ‘Di udara’, yang menyimpan dukungan terhadap tegaknya Hak Asasi Manusia. Menurut Cholil, pencipta lagu sekaligus vokalis ERK, lagu tersebut sengaja di dedikasikan untuk mengenang Munir. Seorang aktivis HAM yang terbunuh di pesawat beberapa tahun lalu. Dalam lagu tersebut, dengan piawai Cholil menyihir setiap kata menjadi sebuah cerita. Lalu, ketika dikombinasikan dengan nada merdu, yang sesuai dengan aliran musik yang mereka anut, jadilah sebuah lagu yang indah dan penuh pesan moral di dalamnya.

ERK sangat piawai dalam membuat lirik dan aransemen musik yang berkualitas. Tidak hanya pada seputar lagu-lagu yang berlatar belakang kritik sosial saja. Melainkan dalam menciptakan lagu bertemakan cinta. ERK mampu menciptakan sebuah lagu cinta yang tak kampungan, dari segi lirik, maupun aransemen musik. Seperti lagu berjudul ‘Desember’. Di sini lah, kadar musikalitas dan kepenyairan personel ERK yang tinggi, terlihat. Terutama Cholil, yang hampir semua lirik lagu ERK yang begitu indah lahir dari tangannya. Alhasil, banyak pengamat musik yang memuji karya-karya ERK. Penggemar ERK pun semakin bertambah banyak. Tersebar ke seulurh pelosok negeri. Seolah ERK adalah sebuah grup musik major label.

Namun, diantara sekian banyak lagu hasil karya ERK. Ada sebuah lagu ERK yang patut mendapatkan kritik. Bukan dari segi aransemen musik. Melainkan pada pesan yang terkandung di dalamnya. Yaitu, lagu yang berjudul ‘Bukan lawan jenis’. Yang merupakan salah satu lagu pada album pertama mereka. Berjudul ‘Efek Rumah Kaca’.

Bagi saya, lirik dalam lagu ‘Bukan lawan jenis’, mengandung unsur diskriminasi terhadap kaum yang memiliki disorientasi perilaku sex.  Adapun lirik lagu tersebut adalah sebagai berikut:

Aku bertemu kamu dalam gelap
Aku menuntunmu menuju terang
Menuju terang dari gelap malam
Kamu simpan gambarku dalam hati
Dalam mimpi dan di dalam hati
Dalam mimpi dan di dalam hati

Aku takut kamu suka pada diriku
Karna memang aku bukanlah lawan jenismu

Kita bertemu muka lagi
Hanya menatap tanpa bahasa

Tanpa isyarat memendam tanya
Masihkah aku di dalam mimpimu
Aku takut kamu suka pada diriku
Karna memang aku bukanlah lawan jenismu
Maaf aku pernah mengisi relung hatimu
Karna memang aku bukanlah lawan jenismu.

Dalam bait-bait yang ada dalam lirik lagu tersebut. Menurut pemaknaan saya, ERK seolah tengah bercerita. Tentang seseorang yang ingin menyadarkan sahabatnya dari disorientasi perilaku sex. Dalam cerita tersebut, sang teman tengah berusaha untuk menyadarkan temannya. Ia memiliki sebuah ketakutan, bahwa sahabat yang akan disadarkannya, akan jatuh cinta kepadanya. Sedangkan, mereka berdua berjenis kelamin sama. Seolah sang teman tidak menghendaki cinta yang dirasakan oleh sahabatnya, bagi dirinya itu merupakan suatu hal yang tidak wajar.Harus dihindari. Sehingga cinta sang sahabat pun bertepuk sebelah tangan.

Pada tataran ini lah—tanpa merendahkan keindahan lirik yang tercipta—pesan pada lagu tersebut harus dikritik. Karena, sesuai dengan apa yang saya maknai dari lirik lagu itu, ERK masih terjebak pada ruang yang inferno. Yaitu, sebuah keadaan yang masih menganggap bahwa sebuah perilaku deviant, baik dari individu maupun kelompok, adalah sebuah perilaku yang terlarang.

Sedangkan menurut Hebdige, seorang pakar semiotika Barat yang pernah melakukan sebuah penelitian tentang fenomena punk. Seseorang yang masih terjebak dalam kondisi inferno, adalah jauh dari keadaan paradiso. Sebuah keadaan ketika seseorang telah mencapai puncak kenikmatan. Atau dalam arti yang lain, yaitu ketika seseorang tidak lagi didikte oleh pendapat umum.

Maka, bisa dikatakan, ERK masih terdikte oleh pendapat umum. Menurut Hebdige, pendapat umum dapat berasal dari sebuah norma dan nilai yang dominan di lingkungan asal individu atau kelompok yang terdikte. Mengingat para personel ERK berasal dari Indonesia, yang masih menganggap hubungan sejenis adalah sesuatu yang dilarang atau tabu. Dianggap bertentangan dengan budaya dan norma agama mayoritas yang ada di Indonesia. Sehingga wajar, apabila ERK pun berpandangan sama dengan mayoritas orang Indonesia. Sangat berbeda dengan Amerika, yang sejak kemodernan melanda, konsep tabu dalam hubungan antar masyarakat berangsur menghilang. Telah mencapai definisi yang baru. Tak lagi memandang hubungan sejenis sebagai sesuatu yang terlarang. Bahkan, sebuah peraturan undang-undang yang melegalkan pernikahan sejenis pun disahkan.

Namun, kritik ini tidak sekalipun terbesit di dalamnya sebuah upaya untuk menggeser budaya dan norma serta nilai—baik sosial maupun agama—yang telah tertanam sejak lama di negeri ini. Melainkan, ditujukan demi adanya sebuah keselarasan hidup diantara sesama. Sebuah keadaan hidup bernegara yang rukun. Bukan sebuah kehidupan yang penuh dengan perpecahan antar individu maupun golongan, atas dasar apapun.

ERK, sebagai sebuah grup musik terbentuk pada tahun 2001 dan telah memiliki banyak penggemar. Diharapkan bisa lebih bijak dalam menciptakan lagu. Menghindari terciptanya lagu yang mendiskreditkan suatu unsur masyarakat tertentu. Karena, musik, atau karya seni apapun. Merupakan sebuah alat paling cepat untuk melakukan konstruksi pemahaman dan pola berpikir sebuah masyarakat. Bahkan untuk menciptakan sebuah budaya baru. Dalam artian, apabila hal itu tidak disadari oleh ERK dan musisi atau seniman lain. Maka, bukan tidak mungkin, karena karya mereka yang mendiskreditkan perilaku individu atau kelompok tertentu. Akan membuat individu atau kelompok tersebut diasingkan oleh masyarakat yang mengamini pandangan mereka. Bahkan dalam keadaan terburuk, genosida pun dapat terjadi. Tentu berbagai kekacauan itu sangat kita hindari, agar rak terjadi di negeri yang terkenal toleran ini.

Terakhir, tanpa meruntuhkan kehebatan karya ERK yang lain, yang kritis dan peka terhadap segala permasalahan sosial yang ada. Saya berharap bahwa ERK beserta musisi dan seniman yang lain—sebagai tonggak budaya—untuk bersama bahu membahu menghindarkan negeri ini dari berbagai konflik, atas nama apapun. Salah satunya dengan ikut mengabarkan pada masyarakat, bahwa segala perbedaan yang ada bukanlah alasan bagi kita untuk saling jauh-menjauhi satu sama lain. Melainkan, segala perbadaan tersebut merupakan sebuah kebanggan bagi bangsa ini. Tak lepas dari struktur masyarakatnya yang beragam. Terdiri dari banyak suku, budaya, bahasa, ras, bahkan ideologi.

Kembali kepada fokus kritik saya. Seharusnya kita bangga, bahwa kekerasan yang terjadi pada pelaku penyimpangan perilaku sex di Indonesia, lebih sedikit dibanding Amerika. Maka, jangan sampai keadaan yang sudah baik itu kita runtuhkan sendiri. Melalui konstruksi gagasan dengan alat musik—seperti yang dilakukan oleh ERK—atau bentuk karya seni lainnya. Bahkan, jika kita sanggup, angka kekerasan itu tidak perlu ada. Baik orang yang suka sejenis maupun yang suka dengan lawan jenis akan hidup rukun. Itulah cinta yang sesungguhnya. Tak pandang latar belakang, harta, maupun kasta. [end]

Posted on Senin, Desember 16, 2013 by Sounds Free

No comments